Selasa, 22 Maret 2011

Makalah Bukhari

A. PENDAHULUAN
Kualitas masyarakat tidak hanya ditentukan oleh peradaban materi yang telah dicapai, tetapi yang lebih utama lagi ditentukan oleh sejauhmana masyarakat itu menjunjung tinggi nilai-nilai kemuliaan, bahkan eksistensi masyarakat itu sendiri tergantung dari nilai-nilai kemuliaan itu. Fenomena-fenomena keseharian biasanya ditentukan oleh perilaku human sosio seseorang terhadap individu yang lain.
Seiring berjalannya waktu dan semakin berkembangnya kehidupan manusia, baik itu dalam bidang tehnologi, adat, budaya, peradaban, dan lain debagainya. Maka semakin banyak pula problem-problem yang mincul seiring dengan itu, baik itu menyangkut ibadah ataupun menyangkut sosial kemasyarakatan. Sehingga hal itu memerlukan suatu penyelesaian yang efektif.

Islam telah mengatur berbagai hal mengenai kehidupan manusia, yang mana kesemuanya itu telah ada dalam alqur'an dan assunnah. Dan tak luput dari peranan para ulama terdahulu dalam berijtihad untuk menggali hokum-hukum yang terkandung dalam dua sumber syariat umat islam tersebut (al-Qur'an dan as-Sunnah). Diantara hasil ijtihad para ulama dahulu yakni disusunnya kaidah-kaidah fiqh, yang menjadi salah satu pegangan dalam memecahkan suatu masalah.
Dengan mengharapkan ridho dan pertolongan dari Allah, pada kesempatan ini penulis akan mencoba menjelaskan beberapa kaidah fikih yang telah dibuat oleh para ulama terdahulu, dan sebagai bahan presentasi seminar kelas mata kuliah kaidah fiqih, yang berjudul:
-لا ينسب الى سا كت قول ولكن السكوت في معرض الحا جة بيان
-اذا اجتمع أمران من جنس واحد ولم يختلف مقصودهما دخل أحدهما الاخر
-السؤال معاد في الجواب
-البينة على من ادعى واليمين على من أنكر
Semoga dengan adanya makalah ini dapat memberikan informasi kepada kita dalam proses pembelajaran kaidah fikih ini.

B. PEMBAHASAN
لا ينسب الى سا كت قول ولكن السكوت في معرض الحا جة بيان
1. Arti kaidah
Kaidah ini merupakan satu kaidah yang terdiri dari dua bagian. Pertama, kaidah
لا ينسب الى سا كت قول bagian kaidah ini terdiri dari dua kata pokok yaitu kata ينسب yang berarti sandaran dan kata سا كت yang artinya diam, jadi kaidah لا ينسب الى سا كت قول itu memiliki arti " perkataan tidak disandarkan kepada orang yang diam ". Kedua, kaidah
ولكن السكوت في معرض الحا جة بيان, pada bagian ini terdapat dua kata yang harus digaris bawahi, yaitu kata السكوت yang artinya diam dan kata بيان yang berarti penjelas atau pengakuan. Jadi arti keseluruhan dari bagian ini ialah “ diam dalam sesuatu yang ditawarkan merupakan pengakuan”.
2. Penjelasan kaidah
a) Perkataan tidak disandarkan kepada orang yang diam
Pernyataan ini merupakan bagian pertama dari kaidah ini, yang merupakan pernyataan dari imam Syafi’I Rahimahullah. makna kaidah ini adalah bahwa suatu perkataan tidak diperbolehkan untuk disandarkan kepada orang yang diam apabila dia tidak mengatakannya. Kaidah ini memiliki aplikasi yang banyak, akan kami sebutkan diantanya adalah sebagai berikut:
1) Jika seseorang melihat orang asing menjual hartanya, kemudian ia diam saja, maka diamnya ini tidak dianggap memperbolehkan atau mewakilkan.
2) Jika seseorang melihat orang lain merusak hartanya, kemudian ia diam, ini bukan berarti izin untuk merusaknya.
3) Di dalam suatu persidangan, seorang hakim tidak diperbolehkan menetapkan status hukum seseorang yang sedang diadili yang hanya diam tanpa mengakui dakwaan yang ditunjukkan kepadanya.
b) Diam dalam sesuatu yang ditawarkan merupakan pengakuan
Artinya, diam dalam hal yang diharuskan untuk berbicara merupakan pengakuan. Pengakuan ini diterima karena kondisi/ kasus yang sedang terjadi mengharuskan untuk tidak diam saja. Kaidah ini juga memiliki banyak aplikasi yang diantaranya:
1) Diamnya anak perawan ketika ditawarkan menikah dengan seorang laki-laki oleh walinya, dianggap sebagai ridho atau persetujuannya.
2) Diamnya orang yang menjadi wakil, dan orang yang dititipi, dianggap sebagai penerimaan, sela ma tidak ada penolakan secara terang-terangan.
3) Diamnya pembeli sebelum akad jualbeli ketiak penjual memberitahukan adanya aib pada barang yang akan dijualbelikan, dianggap sebagai persetujuan dari pembeia akan adanya aib tersebut.
4) Diam dalam hal sewa menyewa dianggap sebagai qabul dan persetujuan, seperti perkataan seseorang kepada orang yang menempati rumahnya,” tinggallah kamu didalamnya dengan harga sewa sekian, jika tidak keluarlah dan pindahlah dari sini,” lalu orang itu hanya diam dan tetap menempati tempat tersebut, maka dia wajib membayar uang sewa yang telah disebutkan.
Dan masih banyak lagi aplikasi dari kedua kaidah tersebut, baik kaidah yang “perkataan tidak disandarkan kepada orang yang diam” atau pun kaidah “ diam dalam sesuatu yang ditawarkan merupakan pengakuan”.

اذا اجتمع أمران من جنس واحد ولم يختلف مقصودهما دخل أحدهما الاخر
1. Arti kaidah
Kaidah ini memiliki arti “apabila dua perkara dari satu jenis berkumpul dan maksud keduanya tidak berlainan, maka salah satunya masuk pada yang lain”
2. Penjelasan kaidah
Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif mengungkapkan redaksi lain dari kaidah ini yang artinya “apabila berkumpul dua ibadah yang satu jenis maka dengan mengerjakan salah satunya sudah mencukupi untuk keduanya, jika maksudnya sama” . Maksud dari kaidah ini ialah apabila ada dua perkara yang sama bentuknya juga sama maksudnya , maka cukuplah hanya mengerjakan salah satu dari keduanya, karena itu sudah mewakili keduanya.
Diantara aplikasi dari kaidah ini adalah:
a. Apabila seseorang masuk kedalam masjid lalu salat fardhu atau salat sunah rawatib, maka dalam salatnya ini tercakup salat tahiyyatul masjid (mengagungkan masjid). Setelaha salat fardhu atau sunah rawatib ini dia tidak perlu melakukan salat tahiyyatul masjid lagi, karena maksud tahiyyatul sudah tercapai yaitu melakukan salat sebelum duduk didalam masjid.
b. Apabila hadas dan jinabat dan haid berkumpul, maka cukup satu kali mandi, tidak butuh dua kali mandi.
Dan masih banyak lagi bentuk aplikasi dari kaidah ini.

السؤال معاد في الجواب
1. Arti kaidah
Kaidah ini terdiri dari tiga kata pokok, yaitu السؤال yang artinya pertanyaan, معاد yang artinya terulang, serta الجواب yang mempunyai arti jawaban, jadi Arti dari kaidah ini adalah “pertanyaan itu terulang dalam jawaban”
2. Penjelasan kaidah
Apabila sebuah jawaban itu dengan lafadz yang singkat seperti “ya atau tidak” atau lainnya setelah sebuah pertanyaan yang panjang dan terperinci, maka seakan-akanpertanyaan itu terulang dalam jawaban tersebut. Dan tidak boleh bagi orang yang diberikan pertanyaan untuk meniatkan sesuatu yang lainnya selain pertanyaan tersebut.
Misal; kalau ada seseorang yang bertanya : apakah kamu mengambil uang si fulan? Lalu dia menjawab: “ya.” Maka jawaban ini berarti; “ya, saya mengambil uang si fulan.” jadi ketika seseorang ditanya dengan pertanyan yang panjang dan banyak, maka ketika ia menjawab pertanyaan itu walau hanya dengan satu kata saja maka seakan-akan pertanyaan itu terulang atau ada dalam jawaban yang diberikannya.
Sebagai contohnya yaitu pada kasus video asusila yang melibatkan selebriti ternama di Indonesia, yaitu antara Ariel vokalis ban Paterpan, Luna Maya dan Cut Tari. Ketika penyidik menanyakan kepada keduanya, “apakah orang yang berada video asusila bersama aril itu adalah anda?”, dan ketika Luna atau Tari hanya menjawa dengan kata “ya” maka pernyataan penyidik tadi ada dalam jawabannya tersebut. Dengan kata lain ia menjawab, “Ya, orang yang berada dalam video asusila bersama aril itu saya”.

البينة على من ادعى واليمين على من أنكر
1. Arti kaidah
Arti dari kaidah ini adalah “bukti ditetapkan kepada orang yang mendakwa dan sumpah ditetapka kepada orang yang ingkar”
2. Penjelasan kaidah
Dalil dari kaidah ini adalah hadits nabi Muhammad saw. Imam Muslim meriwayatkan dalam shahihnya dari Ibnu Abbas bahwasannya Nabi bersabda, “jika manusia diterima dakwaannya begitu saja, maka manusia-manusia akan mendakwa darah dan harta orang-orang. Akan tetapi sumpah bagi orang yang terdakwa.” Dalam sarah hadits ini terdapat ungkapan, “dan tersebut dalam riwayat al-Baihaqi dan lainnya dengan sanad hasan atau shahih dari Ibnu Abbas dari nabi dengan lafadz ”Akan tetapi, bukti bagi orang yang mendakwa dan sumpah bagi orang yang ingkar.”
Bukti adalah sesuatu yang bias untuk membuktikan sebuah hak, dalam hal ini untuk menetapkan kebenaran apa yang menjadi pengakuan seseorang. sedangkan bukti menurut istilah fuqaha-apabila dimutlakan, bermakna persaksian. Sebab, persaksian lebih jelas daripada bukti lainnya dalam menampakkan dan menetapkan kebenaran. Selain itu adapula yang berpendapat bahwa bukti itu ialah segala sesuatu yang menjelaskan dan menampakkan kebenaran, ia tidak terbatas pada persaksian semata.
Al-Mudda’i (penuntut) adalah orang yang harus menunjukkan dalil yang menjadi dasar atas dakwaannya. Hikmah ditetapkannya bukti kepada penuntut bukan kepada orang yang didakwa adalah bahwa pihak orang yang mendakwa lemah karena dakwaannya bertentangan dengan sesuatu yang tampak, sementara pihak yang didakwa kuat karena dia berpegangan dengan kaidah dasar yaitu al-ashl bara’atu adz-dzimmah (asal segala sesuatu adalah bebas dari tanggungan). Maksudnya terbebas dari hak orang lain karena manusia dilahirkan dalam keadaan merdeka.
Sedangkan keberadaan penuntut dan dakwaannya bertentangan dengan kaidah tersebut, maka dia diharuskan melakukan pembuktian. Karena kuatnya sisi orang yang didakwa, dia cukup menggunakan sumpah ketika orang mendakwa tidak mampu membuktikan dakwaannya dan orang yang didakwa mengingkari dakwaan.
Sumpah disini adalah sumpah atas nama Allah bahwa dialah yang benar dari segala tuntutan, tuduhan dan pengakuan. Dan semua yang dilakukan oleh yang mengaku itu tidak benar. Dan para ulama sepakat bahwa sumpah yang sah adalah sumpah dengan menggunakan asma Allah atau sifatn-Nya.
3. Tata cara sumpah
Dalam melakukan sumpah untuk membuktikan kebenaran, bahwa si terdakwa tidak bersalah maka ada tata caranya sendiri yaitu:
a. Bersumpah dengan menggunakan nama Allah seperti menggunakan lafadz; Billahi, Tallahi, atau Wallahi.
b. Sumpah ditetapkan oleh hakim dan atas persetujuan orang yang bertikai
c. Sumpah tidak bias digantikan atau diwakilkan oleh orang lain
4. Syarat-syarat wajib sumpah
Didalam melakukan sumpah terdapat syarat-syarat yang harus terpenuhi, yaitu:
a. Terdakwa mengingkari dakwaan
b. Pihak penuntut memintanya bersumpah karena memang itua adalah haknya
c. Dakwaan benar. Jika dakwaan tidak benar (rusak), maka sumpah tidak wajib atas terdakwa
d. Perkara yang didakwakan termasuk perkara yang di dalamnya berlaku permintaan sumpah
























C. KESIMPULAN
Kaidah لا ينسب الى سا كت قول ولكن السكوت في معرض الحا جة بيان memiliki dua bagian atau dua kaidah, yang pertama “perkataan tidak disandarkan kepada orang yang diam” dan “ diam dalam sesuatu yang ditawarkan merupakan pengakuan”.
Kaidah اذا اجتمع أمران من جنس واحد ولم يختلف مقصودهما دخل أحدهما الاخر memiliki arti “apabila dua perkara dari satu jenis berkumpul dan maksud keduanya tidak berlainan, maka salah satunya masu pada yang lain”.
Arti dari kaidah السؤال معاد في الجواب adalah “pertanyaan itu terulang dalam jawaban”.
Arti dari kaidah البينة على من ادعى واليمين على من أنكر adalah “bukti ditetapkan kepada orang yang mendakwa dan sumpah ditetapka kepada orang yang ingkar”

D. DAFTAR PUSTAKA
As-Suyuthi, Al-Asbah Wa An-Nazhair, darul kitab al-islami.
Karim Zaidan, Abdul. Alwajis fi syarhi al-qawaid al-fiqhiyyah fi asy-syari’ah al-islamiyyah, Jakarta: al-kautsar, 2008
Sabik bin Abdul Lathif, Ahmad. alqawaid alfiqhiyyah kaidah-kaidah praktis memahami fikih islami, pustaka al-furqan, 2009
Ahmad, Asy-Syaikh bin Asy-Syaikh Muhammad Ar-Razaq. Syarah al-Qawaid al-Fiqhiyyah. Damaskus: Darul Qalam,1996

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar